Tim Penanggulangan Gempa KAE Mulai Bergerak, Uskup Agung Ende Tekankan Pemulihan Kelompok Rentan

ENDE, Media KAE — Keuskupan Agung Ende (KAE) mulai memperkuat langkah pemulihan pascagempa bumi Flores. Langkah tersebut ditandai dengan pertemuan perdana Tim Penanggulangan Bencana Gempa Bumi pada Sabtu, 19 September 2026, di Ruang Pertemuan Keuskupan Agung Ende.

Pertemuan ini menjadi langkah awal koordinasi tim untuk melanjutkan pelayanan dan pendampingan bagi umat serta masyarakat terdampak gempa bumi Flores, memasuki tahap pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana.

Pertemuan dihadiri para pastor, suster, bapak dan ibu fungsionaris pastoral, serta anggota Tim Tanggap Darurat Gempa Flores Keuskupan Agung Ende. Kehadiran berbagai unsur pelayanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama dan memastikan kesinambungan pelayanan Keuskupan Agung Ende dalam merespons dampak bencana.

Tim Penanggulangan Bencana Gempa Bumi Keuskupan Agung Ende dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Uskup Agung Ende Nomor 153/SK/UAE/IX/2026, yang ditandatangani Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, pada 18 September 2026 di Ndona.

Pembentukan tim tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil Sidang Dewan Kuria Keuskupan Agung Ende pada 14 September 2026, setelah masa tanggap darurat gempa bumi Flores berakhir pada 12 September 2026.

Kelompok Rentan Menjadi Perhatian Utama

Dalam pertemuan perdana tersebut, Mgr. Paulus Budi Kleden menegaskan bahwa penanganan pascagempa perlu terus dilanjutkan, terutama dalam menghadapi musim hujan dan kondisi masyarakat yang masih membutuhkan pendampingan.

Ia menekankan pentingnya perhatian terhadap kelompok rentan yang belum dapat kembali menjalani kehidupan secara normal setelah bencana.

Kelompok rentan yang menjadi perhatian antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang membutuhkan dukungan khusus. Menurut Mgr. Paulus, pelayanan pascagempa harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat sehingga bantuan dan pendampingan dapat diberikan secara tepat sasaran.

“Pemulihan pascagempa harus memperhatikan masyarakat yang masih membutuhkan bantuan, terutama kelompok rentan,” demikian penekanan Mgr. Budi dalam arahannya mengenai keberlanjutan pelayanan pascabencana.

Selain distribusi bantuan domestik, Keuskupan Agung Ende akan melanjutkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak sesuai dengan kebutuhan. Pendampingan pastoral dan trauma healing juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa yang mengalami dampak psikologis akibat bencana.

Bencana Flores, Gempa Keuskupan Agung Ende, Gempa Flores, Uskup Agung Ende, Komsos Ende, Komsos KAE, Tim Penanggulangan Bencana gempa Flores KAE, Caritas PSE KAE, CAritas Indonesia
Foto: Dok. Pribadi UsW/KomsosKAE
Memulihkan Ekonomi dan Infrastruktur

Dalam arahannya, Uskup Budi menjelaskan bahwa pemulihan ekonomi menjadi salah satu fokus penting pada tahap pascagempa. Keuskupan Agung Ende akan mendampingi umat yang terdampak dan membutuhkan dukungan untuk memulihkan kehidupan ekonomi mereka.

Perhatian juga diberikan pada rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan yang mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun berat. Pelaksanaan program tersebut membutuhkan pendataan yang akurat, penggalangan sumber daya, serta komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar Keuskupan Agung Ende.

Tim Penanggulangan Bencana Gempa Bumi memiliki tugas melakukan pendataan dan pemetaan kebutuhan pemulihan, meneruskan pelayanan tanggap darurat yang masih diperlukan, serta mengoordinasikan berbagai bentuk bantuan dan dukungan bagi umat, paroki, komunitas-komunitas, dan biara yang terdampak gempa.

Tim juga bertugas memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program pemulihan serta menyampaikan laporan kepada Uskup Agung Ende secara berkala atau sesuai kebutuhan.

Uskup Budi menegaskan bahwa umat dan masyarakat terdampak menjadi sasaran utama dalam proses pemulihan pascagempa. Dengan pendataan yang semakin baik, Keuskupan Agung Ende dapat mengidentifikasi kebutuhan masyarakat secara lebih tepat serta mendorong pemerintah untuk memberikan perhatian kepada warga yang masih membutuhkan bantuan selama masa transisi dan pemulihan.

Di samping masyarakat terdampak, Gereja sendiri menjadi kelompok sasaran berikutnya, khususnya dalam rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas milik Keuskupan Agung Ende yang mengalami kerusakan. Proses tersebut merupakan pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan komitmen dan perhatian berkelanjutan.

Kolaborasi Menjadi Dasar Pelayanan

Uskup Agung Ende menekankan pentingnya dedikasi, kontribusi waktu, dan pemikiran dari seluruh anggota tim. Kolaborasi antaranggotanya diperlukan agar tim dapat menjalankan tugas secara efektif sekaligus membantu Uskup Agung dan Kuria Keuskupan Agung Ende dalam melaksanakan tanggung jawab pelayanan pascabencana.

Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh anggota tim yang telah bersedia mengambil bagian dalam tugas penanggulangan bencana. Berbagai bentuk kontribusi dan kerja sama diharapkan dapat semakin memperkuat pendampingan bagi umat dan masyarakat terdampak.

Mgr. Budi juga menegaskan bahwa Tim Penanggulangan Bencana Gempa Bumi merupakan tim Keuskupan Agung Ende yang bekerja atas nama Keuskupan dan Kuria. Meskipun para anggota berasal dari berbagai latar belakang pelayanan, seluruhnya membawa identitas dan tanggung jawab yang sama sebagai bagian dari Keuskupan Agung Ende dalam menjalankan tugas kemanusiaan dan pelayanan pascagempa.

Pertemuan perdana tersebut menjadi bagian dari langkah Keuskupan Agung Ende untuk memperkuat koordinasi pelayanan dalam menghadapi proses transisi, pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana.

Melalui semangat kebersamaan dan kerja sama, tim diharapkan mampu mendampingi umat dan masyarakat terdampak secara berkelanjutan. Di tengah proses pemulihan yang tidak singkat, pelayanan tersebut dihidupi oleh semangat persaudaraan sebagaimana semboyan Keuskupan Agung Ende, “Peliharalah Kasih Persaudaraan” (Ibrani 13:1).*

*Oleh: UnW/KomsosKAE

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *