Bukan Sekadar Menerima Krisma, 137 Umat Kurubhoko Diajak Bertumbuh dalam Kedewasaan Iman

KURUBHOKO, MediaKAE – Sebanyak 137 umat Paroki St. Maria Ratu Para Malaikat Kurubhoko, Keuskupan Agung Ende, menerima Sakramen Krisma dari Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, dalam perayaan Ekaristi Minggu Biasa XXVIII, Minggu (11/10/2026). Perayaan yang berlangsung di halaman Gereja St. Maria Ratu Para Malaikat Kurubhoko ini menjadi momentum penting bagi para penerima Sakramen Krisma untuk semakin bertumbuh dalam kedewasaan iman dan tanggung jawab sebagai pengikut Kristus.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, bersama RD. Damianus Dionisius Nuwa, Sekretaris Keuskupan Agung Ende; RP. Maxwell Wullar, SVD, Sekretaris Jenderal SVD Sedunia; RP. Philipus Adi Sulistyo, OFM, Pastor Paroki Kurubhoko; serta RP. Fransiskus Sulaiman Otor, OFM, Pastor Vikaris.
Undangan Allah Menuntut Perubahan Hidup

Dalam homilinya, Mgr. Paulus Budi Kleden mengajak umat merenungkan makna perjamuan pesta sebagai lambang Kerajaan Surga. Allah mengundang semua orang untuk mengambil bagian dalam keselamatan yang ditawarkan-Nya.
Uskup menjelaskan bahwa orang-orang yang menolak undangan dalam perumpamaan tersebut melambangkan penolakan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah. Namun, penolakan itu tidak menghentikan karya keselamatan Allah.
Allah tetap membuka pintu keselamatan bagi semua bangsa. Hal ini memperlihatkan bahwa Tuhan adalah Allah yang senantiasa memiliki pengharapan dan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk datang kepada-Nya.
Lebih lanjut, Uskup menyoroti sosok undangan yang hadir tanpa mengenakan pakaian pesta. Menurutnya, gambaran tersebut mengingatkan umat bahwa kehadiran dalam perjamuan Tuhan tidak cukup hanya secara fisik, tetapi harus disertai kesiapan batin dan perubahan hidup.
Kehadiran tanpa pakaian pesta menjadi lambang ketidaklayakan seseorang di hadapan Allah karena tidak mempersiapkan diri sesuai dengan tuntutan undangan-Nya.
Karena itu, setiap orang beriman dipanggil untuk mengalami pertobatan yang nyata, bukan sekadar menjalankan kewajiban keagamaan secara lahiriah.

Empat Kedisiplinan sebagai Tanda Kedewasaan Iman
Secara khusus, Mgr. Paulus Budi Kleden menegaskan bahwa menjadi bagian dari Kerajaan Allah menuntut perubahan mentalitas, baik secara rohani maupun jasmani, melalui pertobatan Injili.
Perubahan tersebut perlu diwujudkan dalam kebiasaan hidup sehari-hari, terutama melalui sikap disiplin sebagai salah satu tanda kedewasaan iman seorang Katolik.
“Kedisiplinan hidup adalah simbol kedewasaan iman umat Katolik,” tegas Uskup Agung Ende.
Kepada 137 penerima Sakramen Krisma, Uskup menguraikan empat bentuk kedisiplinan yang perlu dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, disiplin berpenampilan. Umat diajak memperhatikan cara berpenampilan sebagai bagian dari sikap menghargai diri sendiri, sesama, dan lingkungan tempat mereka berada.
Kedua, disiplin waktu. Setiap orang beriman perlu belajar menghargai waktu, menepati janji, serta bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya.
Ketiga, disiplin pergaulan. Para penerima Sakramen Krisma diingatkan untuk membangun pergaulan yang sehat, saling menghormati, dan mencerminkan nilai-nilai Kristiani.
Keempat, disiplin berkomunikasi. Umat diajak membangun komunikasi yang baik, menggunakan kata-kata secara bijaksana, serta menjaga sikap saling menghargai dalam hubungan dengan sesama.
Keempat bentuk kedisiplinan tersebut menjadi pedoman praktis bagi para penerima Sakramen Krisma untuk mewujudkan iman dalam kehidupan sehari-hari.

Krisma sebagai Panggilan untuk Semakin Dewasa dalam Iman
Penerimaan Sakramen Krisma bukan sekadar sebuah tahapan dalam kehidupan menggereja, melainkan panggilan untuk semakin dewasa dalam iman dan berani memberikan kesaksian tentang Kristus melalui tindakan nyata.
Melalui Sakramen Krisma, para penerimanya diteguhkan oleh karunia Roh Kudus agar semakin mampu menghayati iman, bertanggung jawab atas pilihan hidup, dan mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan Gereja serta masyarakat.
Pesan Uskup Agung Ende tentang empat kedisiplinan menjadi pengingat bahwa kedewasaan iman tidak hanya tampak dalam keterlibatan seseorang pada kegiatan keagamaan, tetapi juga dalam sikap, perilaku, dan cara membangun hubungan dengan sesama.
Perayaan penerimaan Sakramen Krisma bagi 137 umat Paroki Kurubhoko ini sekaligus menjadi ajakan bagi seluruh umat untuk terus memperbarui diri melalui pertobatan dan kesetiaan menjalankan nilai-nilai Injil.
Dengan demikian, undangan Allah untuk mengambil bagian dalam perjamuan Kerajaan Surga dijawab bukan hanya melalui kehadiran dalam perayaan iman, tetapi terutama melalui kehidupan yang semakin mencerminkan kasih, tanggung jawab, dan kedewasaan sebagai murid Kristus. DdN/KomsosKAE

