Sebelas Tahun Perjuangan dan Pengorbanan, Gereja Paroki Wonda Akhirnya Ditahbiskan
WONDA, MediaKAE – Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, menahbiskan Gereja Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Wonda pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Pentahbisan gereja yang pembangunannya dimulai sejak tahun 2015 ini menjadi puncak perjuangan dan kebersamaan umat dalam menghadirkan rumah ibadat yang layak bagi kehidupan iman mereka.
Perayaan yang mengusung tema “Cinta untuk Rumah-Mu Menghanguskan Aku” (Yoh. 2:17) ini sekaligus menjadi momentum syukur atas lima tahun keberadaan SMK Santo Franda (Santo Fransiskus Asisi Wonda) dan 100 tahun karya Kongregasi Suster SPM di Indonesia.
Perayaan tersebut dihadiri Romo Vikep Ende, para imam, biarawan dan biarawati, pejabat yang mewakili Gubernur Nusa Tenggara Timur, Bupati Ende, para donatur, serta umat Paroki Wonda.

Diawali Pengguntingan Pita dan Penyerahan Kunci Gereja
Rangkaian perayaan pentahbisan diawali di depan gedung gereja yang baru dengan upacara penyambutan Uskup Agung Ende, dilanjutkan pengguntingan pita, penandatanganan prasasti, dan penyerahan kunci gereja.
Dalam prosesi tersebut, Mgr. Paulus Budi Kleden didampingi pastor paroki dan perwakilan umat melakukan pengguntingan pita sebagai tanda peresmian gedung gereja.
Selanjutnya, Ketua Panitia Pembangunan Gereja menyerahkan kunci gereja kepada Uskup Agung Ende sebagai simbol penyerahan gedung yang telah selesai dibangun untuk digunakan sebagai tempat peribadatan umat Katolik.
Uskup kemudian menyerahkan kunci tersebut kepada pastor paroki sebelum memimpin ritus pemberkatan dan pembukaan pintu gereja.
Salah satu bagian penting dalam ritus pembukaan adalah pengetukan pintu gereja sebanyak tiga kali menggunakan tongkat gembala. Setelah pintu dibuka oleh pastor paroki, perarakan masuk menuju ruang gereja mengawali rangkaian liturgi pentahbisan.

Ritus Pentahbisan Gereja dan Altar
Perayaan dilanjutkan dengan pemberkatan air dan pemercikan air suci kepada umat, dinding gereja, serta altar sebagai lambang penyucian dan pembaruan iman.
Dalam Liturgi Sabda, umat mendengarkan bacaan dari Kitab Nehemia 8:1–10, Kisah Para Rasul 2:41–47, dan Injil Yohanes 2:13–25.
Setelah Liturgi Sabda dan homili, perayaan memasuki bagian utama pentahbisan, yakni Litani Para Kudus, doa dedikasi gereja dan altar, pengurapan dengan minyak krisma, serta pendupaan altar dan gedung gereja.
Melalui doa dedikasi, gereja dipersembahkan secara khusus kepada Allah sebagai tempat umat berhimpun, mendengarkan Sabda Tuhan, merayakan sakramen-sakramen, dan membangun persaudaraan dalam iman.
Ritus pengurapan altar dan dinding gereja dengan minyak krisma menandai pengudusan gedung gereja untuk pelayanan liturgi.

Rangkaian tersebut juga mencakup pemberkatan sejumlah perlengkapan dan simbol keagamaan, termasuk tabernakel, salib utama, patung Bunda Maria, dan patung Keluarga Kudus.
Setelah altar dipersiapkan dan lilin-lilin dinyalakan sebagai lambang terang Kristus, Uskup Agung Ende menyampaikan pernyataan resmi pentahbisan gereja.
“Dengan ini, secara resmi, saya menyatakan, Gereja Paroki Maria Diangkat ke Surga Wonda telah ditahbiskan dan resmi dapat dipakai,” demikian rumusan pernyataan pentahbisan dalam tata perayaan.
Perayaan kemudian dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Ende bersama para imam konselebran.

Uskup Ajak Umat Mencintai Ekaristi, Sabda Tuhan, dan Martabat Manusia
Dalam homilinya, Mgr. Paulus Budi Kleden menegaskan bahwa cinta akan rumah Tuhan tidak boleh dibatasi pada kecintaan terhadap bangunan gereja semata.
Menurutnya, rumah Tuhan juga mencakup kehidupan manusia, persekutuan umat, dan seluruh ciptaan yang menjadi tempat kehadiran Allah.
Uskup menggarisbawahi tiga wujud konkret cinta akan rumah Tuhan, yakni mencintai Ekaristi, mencintai Sabda Tuhan, dan menghormati martabat manusia.
Ia menekankan bahwa Ekaristi harus menjadi pusat kehidupan umat sekaligus mendorong semangat saling berbagi, memberi diri, dan berkorban dalam kehidupan sehari-hari.
“Ekaristi harus menandai seluruh hidup kita yang ditandai oleh kerelaan untuk memberi diri, kesediaan untuk berkorban,” tegasnya.
Selain itu, Uskup mengajak umat menjadikan Sabda Tuhan sebagai pedoman dalam membangun kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Mengacu pada kisah Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah, Mgr. Paulus juga mengingatkan bahwa tidak semua hal dapat diperjualbelikan, terutama kehidupan dan martabat manusia.
“Manusia harus kita hargai. Manusia bukan benda yang dapat kita perjualbelikan,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, Uskup secara khusus menyinggung persoalan tindak pidana perdagangan orang atau human trafficking yang masih menjadi tantangan serius dalam kehidupan masyarakat.

Buah Perjuangan Umat Sejak 2015
Pentahbisan gereja ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Wonda yang memiliki sekitar 3.600 umat, tersebar dalam enam stasi, delapan lingkungan, dan 39 Komunitas Umat Basis (KUB).
Pembangunan gedung gereja dimulai pada tahun 2015 dan dapat diselesaikan berkat keterlibatan serta pengorbanan umat, dukungan para donatur, dan bantuan pemerintah.
Menurut laporan Penanggung Jawab Umum Pembangunan Gereja, RD. Feliks Djawa, total biaya pembangunan mencapai sekitar Rp6,4 miliar.
Pencapaian tersebut menjadi bukti nyata semangat gotong royong, kesetiaan, dan komitmen umat dalam membangun sarana peribadatan yang menjadi pusat kehidupan rohani paroki.
Dalam homilinya, Mgr. Paulus juga menghubungkan keberhasilan pembangunan gereja dengan semangat cinta terhadap Wonda yang mampu mengatasi berbagai kecemasan dan keraguan.
Semangat yang sama, menurut Uskup, juga mendorong berkembangnya karya pendidikan melalui pendirian SMK Santo Franda serta kehadiran para Suster SPM dalam pelayanan di wilayah tersebut.

Syukur atas Karya Pendidikan dan Pelayanan Suster SPM
Selain pentahbisan gereja, perayaan ini juga menjadi ungkapan syukur atas lima tahun perjalanan SMK Santo Franda dan 100 tahun keberadaan Kongregasi Suster SPM di Indonesia.
Kehadiran lembaga pendidikan dan karya para suster menjadi bagian dari perkembangan pelayanan Gereja di Wonda, khususnya dalam membina generasi muda melalui pendidikan, pendampingan, dan pembentukan karakter.
Suasana perayaan turut didukung oleh pelayanan paduan suara dari SMK Santo Franda dan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Wonda yang mengambil bagian dalam memeriahkan liturgi.
Penyerahan Maklumat Pentahbisan
Menjelang akhir perayaan, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan Maklumat Pentahbisan Gereja Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Wonda, sambutan-sambutan, serta penyerahan dokumen maklumat pentahbisan dari Uskup Agung Ende kepada pastor paroki.
Dokumen tersebut menjadi penanda resmi pentahbisan gereja sebagai tempat suci bagi perayaan liturgi dan pelayanan sakramental umat.

Perayaan kemudian ditutup dengan berkat meriah dan pengutusan oleh Uskup Agung Ende.
Pentahbisan Gereja Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Wonda tidak hanya menandai selesainya pembangunan sebuah gedung gereja, tetapi juga membuka babak baru perjalanan iman umat.
Melalui perayaan ini, umat diajak untuk terus membangun Gereja yang hidup, menjadikan Ekaristi dan Sabda Tuhan sebagai pusat kehidupan, serta menghadirkan kasih Allah melalui persaudaraan, pelayanan, dan kepedulian terhadap sesama. UnW/KomsoKAE
