Sembilan Imam Baru Resmi Ditahbiskan, Uskup Ende Sampaikan Pesan Pastoral bagi Pelayan Gereja
MAUTAPAGA, MEDIA KAE — Sembilan Diakon resmi ditahbiskan menjadi imam dalam Perayaan Ekaristi Tahbisan Imam yang berlangsung di pelataran Gereja Katolik Santo Yosef Freinademetz Mautapaga, Ende, Selasa, 29 September 2026.
Kesembilan imam baru tersebut terdiri atas lima imam untuk Keuskupan Agung Ende (KAE) dan empat imam dari Ordo Karmel Tak Berkasut (Ordo Carmelitarum Discalceatorum/OCD). Sakramen Tahbisan Imam dipimpin oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD.

Perayaan tahbisan dihadiri para imam, biarawan dan biarawati, keluarga para calon imam, umat dari berbagai paroki, serta umat dan undangan lainnya. Perayaan tersebut menjadi momentum iman dan sukacita bagi Gereja, khususnya Keuskupan Agung Ende dan Ordo Karmel Tak Berkasut.
Dipanggil untuk Berakar dalam Kristus
Dalam pengantar perayaan, Uskup Agung Ende mengungkapkan sukacita Gereja yang mengantar kesembilan Diakon untuk menerima Sakramen Tahbisan.
Dengan penuh sukacita, umat beriman menghantar kesembilan Diakon untuk ditahbiskan menjadi imam Tuhan. Persembahan diri mereka kepada Tuhan diharapkan memungkinkan pelayanan mereka semakin berakar dalam Kristus dan diwujudkan dalam semangat melayani dengan kerahiman-Nya.
Tahbisan Imam merupakan peristiwa iman yang memiliki makna mendalam bagi Gereja. Melalui penumpangan tangan dan doa tahbisan yang dipimpin oleh Uskup, para calon imam menerima Sakramen Tahbisan dan diutus untuk mengambil bagian dalam tugas pelayanan Kristus.

Sebagai imam, mereka dipanggil untuk mewartakan Sabda Allah, merayakan sakramen-sakramen, serta hadir sebagai gembala yang melayani dan mendampingi umat dengan kasih, kesetiaan, dan kerendahan hati.
Karena itu, tahbisan imam tidak sekadar merupakan pengangkatan seseorang ke dalam jabatan tertentu, tetapi merupakan sebuah peristiwa iman dan liturgi yang menandai penerimaan tugas pelayanan imamat dalam Gereja.
Tuhan Terus Memanggil untuk Mencari yang Hilang
Dalam homili atau pesan pastoralnya, Mgr. Paulus Budi Kleden menegaskan bahwa Tahbisan Imam menjadi bukti bahwa Tuhan tidak pernah berhenti memanggil orang-orang untuk mencari dan menemukan domba-domba yang hilang.
Menurutnya, ada orang-orang yang memilih berjalan sendiri, merasa bosan berada dalam kawanan, atau mengambil jarak karena mengalami kepahitan dan merasa diperlakukan tidak adil.
“Tahbisan, ungkapan kasih Tuhan yang masih setia dengan kita. Dan melalui kita, orang-orang terbaptis dan tertahbis, Tuhan tidak membiarkan mereka yang mengurungkan diri dalam kesendirian, yang terjebak rasa rendah diri atau malu karena kesalahan masa lampau, tetap jauh dan dijauhkan,” ungkap Uskup Budi Kleden.

Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada Gereja untuk melihat secara lebih dekat berbagai realitas kehidupan umat. Gereja dipanggil untuk menghadirkan karya pastoral yang menggerakkan, menyembuhkan, dan membebaskan.
Uskup Budi Kleden mengajak umat untuk tidak hanya bersukacita karena pertumbuhan jumlah dan keberhasilan yang tampak dari luar, tetapi juga memberi perhatian kepada mereka yang mengalami kesulitan dan tersisih.
Ia menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi umat, antara lain relasi keluarga yang tidak harmonis, kesulitan ekonomi, rasa putus asa, serta pengalaman dikhianati oleh orang yang sangat dipercayai.
Jangan Terjebak pada Obsesi Jumlah
Dalam refleksinya, Uskup Agung Ende mengingatkan bahaya ketika Gereja dan umat terlalu terpusat pada angka, kekayaan, kekuasaan, popularitas, dan berbagai ukuran keberhasilan yang tampak.
“Obsesi pada jumlah, sepuluh ekor domba, kekayaan yang menumpuk dan kekuasaan yang mengundang decak kagum, jumlah viewers yang terus meningkat, atau ketenaran menjangkau ke batas bumi, sering kali membuat kita abai melihat yang terluka di sekitar kita, tuli terhadap mereka yang merintih dalam diam, dan mengeluh tanpa suara,” tegasnya.
Menurut Uskup Budi Kleden, perhatian terhadap mereka yang kecil, terluka, tersingkir, dan mengalami kesulitan merupakan bagian penting dari panggilan Gereja.
Gereja tidak hanya dipanggil untuk merayakan keberhasilan, tetapi juga untuk hadir di tengah mereka yang sedang berjuang dan membutuhkan pendampingan.
Menghayati Tiga Tugas Kristus
Dalam pesan pastoralnya, Uskup Budi Kleden juga mengingatkan bahwa Yesus Kristus, Sang Gembala, memanggil seluruh orang yang telah dibaptis untuk mengambil bagian dalam tiga tugas luhur-Nya, yakni sebagai Imam, Raja, dan Nabi.
Secara istimewa, melalui rahmat Sakramen Tahbisan, ketiga tugas tersebut dipercayakan kepada para imam. Melalui pelayanan sakramen, pengajaran iman, dan tanggung jawab kepemimpinan, para imam membantu seluruh umat untuk memahami dan menghayati panggilan mereka sebagai orang-orang yang telah dibaptis.
Karena itu, imamat tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab untuk hadir dan berjalan bersama umat, terutama mereka yang berada dalam situasi sulit.
Tiga Malaikat Agung sebagai Inspirasi Pelayanan
Perayaan Tahbisan Imam tersebut berlangsung bertepatan dengan pesta Tiga Malaikat Agung, Santo Gabriel, Santo Mikael, dan Santo Rafael.
Uskup Budi Kleden menjadikan ketiga Malaikat Agung tersebut sebagai inspirasi bagi para imam baru dalam menjalankan tugas pelayanan mereka.
Ia mengajak para imam baru untuk memiliki dalam diri mereka semangat yang tercermin dalam ketiga Malaikat Agung tersebut: Gabriel yang mewartakan, Mikael yang tidak mudah menyerah dalam perjuangan, dan Rafael yang dengan rendah hati membalut yang terluka serta merangkul mereka yang tersingkir.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam perutusan kesembilan imam baru. Pelayanan imam, menurut Uskup Budi Kleden, hendaknya tidak berhenti pada tugas-tugas liturgis, tetapi juga menyentuh kehidupan konkret umat.

“Merendah dan Berjalan Bersama Umat”
Kepada para imam baru, Uskup Agung Ende memberikan pesan agar mereka menunjukkan keagungan imamat bukan dengan meninggikan diri, tetapi justru melalui kerendahan hati dan kesediaan berjalan bersama umat.
“Tunjukkan keagungan imamatmu dalam kesediaan untuk merendah; berjalan di atas tanah bumi yang berdebu bersama umat yang sederhana dan turut merasakan ketidakpastian hidup saudara-saudari kita yang tidak hanya menjadi korban goncangan bumi, tetapi lebih sering karena goncangan situasi ekonomi dan ketidakpastian kebijakan politik,” ajaknya.
Pesan tersebut menjadi relevan dalam konteks kehidupan masyarakat yang menghadapi berbagai bentuk ketidakpastian. Seorang imam diharapkan tidak mengambil jarak dari realitas kehidupan umat, melainkan hadir, mendengarkan, mendampingi, dan berjalan bersama mereka.
Berakar dalam Kasih Kristus
Di akhir pesan pastoralnya, Mgr. Paulus Budi Kleden mengajak para imam baru untuk menjadikan Kristus sebagai dasar utama seluruh pelayanan imamat mereka.Ia berharap para imam baru mampu menghadirkan wajah Kristus yang berbelas kasih, terutama kepada mereka yang terluka, tersingkir, mengalami kesulitan, dan kehilangan harapan.
“Jadilah imam Tuhan yang sungguh berakar dalam kasih Kristus dan melayani dalam kerahiman-Nya,” demikian harapan dan ajakan Uskup Agung Ende kepada kesembilan imam baru.
Tahbisan sembilan imam tersebut sekaligus menjadi tanda bahwa panggilan Tuhan terus hidup di tengah Gereja. Melalui para imam baru, Gereja berharap pelayanan pewartaan, perayaan sakramen, pendampingan umat, dan perhatian kepada mereka yang kecil dan tersingkir semakin menemukan wajah Kristus yang hadir di tengah kehidupan umat.
Flo’NZ | KOMSOS KAE
